yg terasa olehku saat ini adalah gumpalan rasa bsalah seolah menyumbat aliran darahku..
aku lelah, tp tak mampu bila ku harus mengalah.. aku ingin berdiri & menunjukan apa yg mampu aku beri demi hati yg telah menjadi bagian stiap hari..
jendela dan pintu hati tertutup sudah melihat apa yg ada didepan mata.. dirinya tak mampu memilih, tak mampu menentukan apa yg dirinya inginkan.. baik aku maupun dirinya berenang dalam kebimbangan..
haruskah aku kmbali melangkah meninggalkan snyum dan tawa yg dia persembahkan? atau tetapkah aku kan berdiri diujung kkecewaan karena harapan telah sdikit demi sdikit melenyapkan rupanya..?
jikalau tak lagi ada asa diantara mereka, mgapa ia tak memutar roda kearahku? dan bila memang dia tak butuhkan diri ini.. mengapa aku tak diizinkan berlari?
March 23, 2010
Amarah....
kecil sebenarnya,
tidak berarti bila sendiri,
bukan apa2 bila dipikir,
tak ada harganya bila dijual,
tapii..
tercampur baur..
menjadi raksasa amarah yg meresap ke dalam sukma jiwa,
menjadi kental dan sulit tertuang.
lama mengendap menjadi satu dengan butiran hati,
menjadikan yang bening menjadi keruh,
yang bercahaya menjadi redup,
maka terang berubah gelap.
amarah ini..
telah tertanam lama dan sedang masa panennya.
bukan lagi tumbuh, tapi mulai minta dipetik,
terlihat sudah oleh para pejalan kaki,
tak mampu disembunyikan.
tidak berarti bila sendiri,
bukan apa2 bila dipikir,
tak ada harganya bila dijual,
tapii..
tercampur baur..
menjadi raksasa amarah yg meresap ke dalam sukma jiwa,
menjadi kental dan sulit tertuang.
lama mengendap menjadi satu dengan butiran hati,
menjadikan yang bening menjadi keruh,
yang bercahaya menjadi redup,
maka terang berubah gelap.
amarah ini..
telah tertanam lama dan sedang masa panennya.
bukan lagi tumbuh, tapi mulai minta dipetik,
terlihat sudah oleh para pejalan kaki,
tak mampu disembunyikan.
.....
aku mati2an mencarimu, mencurahkan sgenap kmampuan untuk bicara dgn kmu, meneteskan tralu bnyk air dari mataku, aku berusaha membuat KITA kembali nyaman. Tapi, tampaknya kmu tak sjalan.. kmu menyukai kebisuan ini, menikmati luka sakit hati ini, tak ingin tinggalkan dera duka derita lara yg aku alami..
when u just cant pick one. u will lose both.
when u just cant pick one. u will lose both.
30 menit, dan semua akan kembali normal..
sedih.
tapi saya rasa itu wajar.
nangis.
masih manusiawi.
sebentar aja kok..
dalam 10menit lagi saya akan berhenti menangis.
dalam 20menit lagi saya akan mulai tersenyum.
dalam 30menit lagi saya berhenti bersedih.
tapi saya rasa itu wajar.
nangis.
masih manusiawi.
sebentar aja kok..
dalam 10menit lagi saya akan berhenti menangis.
dalam 20menit lagi saya akan mulai tersenyum.
dalam 30menit lagi saya berhenti bersedih.
EPISODE TERAKHIR!!!
mati2an aku berusaha melupakan pertemuan terakhir kita.
Teralu irrasional, irrelevant dengan apa yang nyatanya terjadi skarang!
Tapi ternyata justru episode itu yg mandek di otakku, membuatku sesak, dan entahlah, segelintir penyesalan akan ke'pamitan' ku.
Lalu, pada akhirnya, disusul rasa marah karena menyadari aku tidak begitu berharganya untuk kamu pertahankan.
2 tahun, 3 kali, dgn 2 wanita, 1 org ini melakukannya dengan sangat baik.
Manis, tapi sangat pahit pada akhirnya!
kalau aku pernah berkata kebersamaan memfasilitasi perasaan, mungkinkah ketidakbersamaan menjadikan ekstinsi perasaan tersebut? atau malah semakin membuat perasaan merintih menangis meraung meminta tempatnya kembali?
Teralu irrasional, irrelevant dengan apa yang nyatanya terjadi skarang!
Tapi ternyata justru episode itu yg mandek di otakku, membuatku sesak, dan entahlah, segelintir penyesalan akan ke'pamitan' ku.
Lalu, pada akhirnya, disusul rasa marah karena menyadari aku tidak begitu berharganya untuk kamu pertahankan.
2 tahun, 3 kali, dgn 2 wanita, 1 org ini melakukannya dengan sangat baik.
Manis, tapi sangat pahit pada akhirnya!
kalau aku pernah berkata kebersamaan memfasilitasi perasaan, mungkinkah ketidakbersamaan menjadikan ekstinsi perasaan tersebut? atau malah semakin membuat perasaan merintih menangis meraung meminta tempatnya kembali?
send to: 0229214***...
Gw pengen sms dia, tapi gengsi dong kalo ga dibales lg.. Hahaha. Jadi gw taro disini aja.. kalau ada yg menyampaikan, ya syukur.. enggakpun gak apa2..
"sminggu ini aku jd org yg lbh baik.. Jd bsemangat, pny kgiatan mnarik n positif, walau masi ada rasa kosong, tp aku tw hrs diisi dgn apa.. miss u much! thnx 4all y! jgn lupa cr kerja :)) slamat wisuda akhir bulan ini! akhirnya pake togaaa.. haha!"
gara2 denger lagu emily.. imma big2 girl, in a big2 world, it's not a big2 thing if u leave me, but i do, do feel.. and i do, do will MISS u much! hoho.. trus gw ngerasa.. 'iya ih, gw gak knapa2 pisah ama dia.. tapi gw kangen dia sih!' hehehe..
"sminggu ini aku jd org yg lbh baik.. Jd bsemangat, pny kgiatan mnarik n positif, walau masi ada rasa kosong, tp aku tw hrs diisi dgn apa.. miss u much! thnx 4all y! jgn lupa cr kerja :)) slamat wisuda akhir bulan ini! akhirnya pake togaaa.. haha!"
gara2 denger lagu emily.. imma big2 girl, in a big2 world, it's not a big2 thing if u leave me, but i do, do feel.. and i do, do will MISS u much! hoho.. trus gw ngerasa.. 'iya ih, gw gak knapa2 pisah ama dia.. tapi gw kangen dia sih!' hehehe..
Sejiwa dengan langit. Menangis deras.
Dilepaskannya semua lara itu melalui airmata langit dan amarah sang semesta. dengan teriakan, dengan kucuran darah yang dilirihkannya dengan nyanyian. simpuhku diatas tanah tua yang basah. Yang setia sesap sakit hati langit sore ini.
Deras, namun selaras. kilat disambarkan saat terajam. Menjerit kala habis kata. Dalam gulir2, jiwa terkungkung hasrat tak kunjung terlepas. Melalui badai, disampaikan kecewa sang peri. dengan guruh, ditawannya hati yang gulana. Pergilah, tenang saja. Sesaat lagi, pelangi kan mulai berpesta.
Deras, namun selaras. kilat disambarkan saat terajam. Menjerit kala habis kata. Dalam gulir2, jiwa terkungkung hasrat tak kunjung terlepas. Melalui badai, disampaikan kecewa sang peri. dengan guruh, ditawannya hati yang gulana. Pergilah, tenang saja. Sesaat lagi, pelangi kan mulai berpesta.
Balasan yang datang terlambat.....
Balasan yang datang terlambat
Untuk seorang pangeran tak bernama,
Suratmu datang sesaat setelah terbesit episode tentang kita di malam kita berjumpa. Aku memikirkannya dan kepulan asap penggalan dari kisah kita yang berakhir secara sempurna cukup keras kepala karena tak jua dapat kuusir-usir rupanya dari kepalaku yang mulai pening di musim pendingin. Kini, lebih dari satu jajaran benua yang memisahkan raga kita. Mungkin juga, sebenarnya, hati kita.
Disini, aku hanya berbalut baju hangat rajutan berwarna jingga yang pernah kau sampirkan di bahuku. Kamu bilang, pemburuannya sampai ke pasar budaya di Ancol, tapi tak apa karena ternyata senyumku berharga lebih dari tiap peluh dan rupiah sejumlah beribu puluh yang kau kucurkan siang itu, demi aku. Demi jingga, warna kesukaanku. Hari itu, ulang tahunku, kedua puluh satu, tepat tiga puluh satu hari yang lalu. Rasanya belum teralu lama dari saat terakhir kali kulitmu itu membelai gurat bahagia di wajahku. Jingga. Iya, seperti warna senja yang dulu pernah kita saksikan berdua. Dengan soundtrack suara ombak saling berkejaran dan pada akhirnya sedikitnya membuat kita tertawa-tawa, karena tampaknya diam-diam ombak merambati kaki-kaki kita yang terbungkus gundukan pasir. Di pantai itu, dikala tanganmu yang hangat memelukku erat, disaat kau izinkan aku untuk menyandarkan tubuhku karena lelah menunggu matahari untuk segera tenggelam dan digantikannya dengan bintang-bintang yang dapat menambah kesyahduan malam kita.
Ya, pangeran. Di malam itu. Dimana mega memang tampak begitu gelap. Hingga kita dibutakan, tanpa dapat menyadari bahwa kelak disajikannya gemintang yang gemerlap. Jika saja, aku lebih sabar menanti, kamu lebih sabar menunggu. Kita lebih memberikan waktu untuk diri kita, hingga tersibak pekatnya mega yang menggantung malam itu.
Jika saja…
Jika saja…
Dan jika saja…
Lalu, kudapati aku duduk di taman ini, pangeran
Bulu kudukku mulai berdiri. Aku kedinginan. Rasanya angin ini menusuk-nusukku sampai tulang-tulangku jadi ngilu. Aku bingung, ngilunya bukan Cuma di tetulangku, tapi disini, pangeran. Di dada ini, rasanya seperti ada yang menancapkan panah. Sakit. Seraya tusukkannya terasa, sayup-sayup diantara ramainya taman ini, kumendengar bisiknya, ia merindu. Merindu kamu. Kamu, tuan perfeksionis, yang selalu sibuk dengan tumpukan berkas-berkas yang kamu koreksi, kamu teliti sehingga tak boleh ada satupun kesalahan yang membekas. Tapi ternyata, noda itu malah menempel pada naskah kita. Noktah berwarna merah yang artinya berdarah. Luka yang berdarah dan menganga sampai kita tak mungkin lagi bisa berjumpa.
Pangeran, di tempatku sekarang, kudengar musik itu. Ingat tidak? Sebuah lagu kenangan yang pernah kita nyanyikan bersama disebuah bilik karaoke di kota Jakarta? Sebuah lagu lama dari Garth Brooke – teach me how to dream…
Teach me how to dream
Help me make a wish
If I wish for you, will you make my wish come true
Pangeran, saat itu pertama kali kamu mengucapkan kita itu, kata yang menjadi awal perjalanan panjang kita. Aku cinta, katamu. Ya, mimpiku. Kau mengajari aku bermimpi dan membantuku mewujudkan apa yang aku inginkan. Apa yang kuingin miliki dari ribuan mimpi yang kuuntai, dan terima kasih, kau adalah satu yang terindah di empat puluh tujuh bulan dimana kita melangkah pada jejak yang sama arahnya, dengan ritme yang seirama. Namun, tiba-tiba saja, ada tembokan dari baja yang menyebabkan kita harus menyusuri jalur berbeda. Maka kita berbalik arah. Sendiri. Seperti kini, hanya aku dan semilir angin yang daritadi sudah membisiki aku untuk segera kembali ke kamarku dengan penghangat ruangan yang akan membuatku nyaman. Tapi, sebaliknya… kehangatan itu hanya akan menambahkan lagi jumlah bait yang mengingatkan aku pada dekapmu kala semilir angin yang serupa di pesisir itu bertiup. Hingga akhirnya, aku terlelap dan mendapatkan empat puluh tujuh bulan berlalu sudah. Aku sudah tersadar dari mimpiku. Sendiri disini.
Pangeran, surat ini harus jadi saksi perpisahan terakhir kau dan aku. Sudah tiba waktunya kita berjalan dengan jiwa kita masing-masing, meninggalkan kenangan tentang masa lalu kelabu yang pernah terlukis dalam halaman-halaman itu. Selamat jalan, nyatanya aku bukan lagi permaisuri yang bersanding di samping singgasanamu kala malam itu, penat mengajakmu bercanda bersama dengan berkas dari kertas yang rasanya ingin kau lumat saja, seperti bibir bibir segar yang tak lagi dapat kau acuhkan dari kedip dan lirik lirik genit dimasa kata tak lagi bersahabat. Maaf, bila kecupku sudah tak lagi dapat kau hisap seperti dulu. Mari pangeran, biar senja kita terjaga tanpa luka berdarah yang lebih parah.
Untuk seorang pangeran tak bernama,
Suratmu datang sesaat setelah terbesit episode tentang kita di malam kita berjumpa. Aku memikirkannya dan kepulan asap penggalan dari kisah kita yang berakhir secara sempurna cukup keras kepala karena tak jua dapat kuusir-usir rupanya dari kepalaku yang mulai pening di musim pendingin. Kini, lebih dari satu jajaran benua yang memisahkan raga kita. Mungkin juga, sebenarnya, hati kita.
Disini, aku hanya berbalut baju hangat rajutan berwarna jingga yang pernah kau sampirkan di bahuku. Kamu bilang, pemburuannya sampai ke pasar budaya di Ancol, tapi tak apa karena ternyata senyumku berharga lebih dari tiap peluh dan rupiah sejumlah beribu puluh yang kau kucurkan siang itu, demi aku. Demi jingga, warna kesukaanku. Hari itu, ulang tahunku, kedua puluh satu, tepat tiga puluh satu hari yang lalu. Rasanya belum teralu lama dari saat terakhir kali kulitmu itu membelai gurat bahagia di wajahku. Jingga. Iya, seperti warna senja yang dulu pernah kita saksikan berdua. Dengan soundtrack suara ombak saling berkejaran dan pada akhirnya sedikitnya membuat kita tertawa-tawa, karena tampaknya diam-diam ombak merambati kaki-kaki kita yang terbungkus gundukan pasir. Di pantai itu, dikala tanganmu yang hangat memelukku erat, disaat kau izinkan aku untuk menyandarkan tubuhku karena lelah menunggu matahari untuk segera tenggelam dan digantikannya dengan bintang-bintang yang dapat menambah kesyahduan malam kita.
Ya, pangeran. Di malam itu. Dimana mega memang tampak begitu gelap. Hingga kita dibutakan, tanpa dapat menyadari bahwa kelak disajikannya gemintang yang gemerlap. Jika saja, aku lebih sabar menanti, kamu lebih sabar menunggu. Kita lebih memberikan waktu untuk diri kita, hingga tersibak pekatnya mega yang menggantung malam itu.
Jika saja…
Jika saja…
Dan jika saja…
Lalu, kudapati aku duduk di taman ini, pangeran
Bulu kudukku mulai berdiri. Aku kedinginan. Rasanya angin ini menusuk-nusukku sampai tulang-tulangku jadi ngilu. Aku bingung, ngilunya bukan Cuma di tetulangku, tapi disini, pangeran. Di dada ini, rasanya seperti ada yang menancapkan panah. Sakit. Seraya tusukkannya terasa, sayup-sayup diantara ramainya taman ini, kumendengar bisiknya, ia merindu. Merindu kamu. Kamu, tuan perfeksionis, yang selalu sibuk dengan tumpukan berkas-berkas yang kamu koreksi, kamu teliti sehingga tak boleh ada satupun kesalahan yang membekas. Tapi ternyata, noda itu malah menempel pada naskah kita. Noktah berwarna merah yang artinya berdarah. Luka yang berdarah dan menganga sampai kita tak mungkin lagi bisa berjumpa.
Pangeran, di tempatku sekarang, kudengar musik itu. Ingat tidak? Sebuah lagu kenangan yang pernah kita nyanyikan bersama disebuah bilik karaoke di kota Jakarta? Sebuah lagu lama dari Garth Brooke – teach me how to dream…
Teach me how to dream
Help me make a wish
If I wish for you, will you make my wish come true
Pangeran, saat itu pertama kali kamu mengucapkan kita itu, kata yang menjadi awal perjalanan panjang kita. Aku cinta, katamu. Ya, mimpiku. Kau mengajari aku bermimpi dan membantuku mewujudkan apa yang aku inginkan. Apa yang kuingin miliki dari ribuan mimpi yang kuuntai, dan terima kasih, kau adalah satu yang terindah di empat puluh tujuh bulan dimana kita melangkah pada jejak yang sama arahnya, dengan ritme yang seirama. Namun, tiba-tiba saja, ada tembokan dari baja yang menyebabkan kita harus menyusuri jalur berbeda. Maka kita berbalik arah. Sendiri. Seperti kini, hanya aku dan semilir angin yang daritadi sudah membisiki aku untuk segera kembali ke kamarku dengan penghangat ruangan yang akan membuatku nyaman. Tapi, sebaliknya… kehangatan itu hanya akan menambahkan lagi jumlah bait yang mengingatkan aku pada dekapmu kala semilir angin yang serupa di pesisir itu bertiup. Hingga akhirnya, aku terlelap dan mendapatkan empat puluh tujuh bulan berlalu sudah. Aku sudah tersadar dari mimpiku. Sendiri disini.
Pangeran, surat ini harus jadi saksi perpisahan terakhir kau dan aku. Sudah tiba waktunya kita berjalan dengan jiwa kita masing-masing, meninggalkan kenangan tentang masa lalu kelabu yang pernah terlukis dalam halaman-halaman itu. Selamat jalan, nyatanya aku bukan lagi permaisuri yang bersanding di samping singgasanamu kala malam itu, penat mengajakmu bercanda bersama dengan berkas dari kertas yang rasanya ingin kau lumat saja, seperti bibir bibir segar yang tak lagi dapat kau acuhkan dari kedip dan lirik lirik genit dimasa kata tak lagi bersahabat. Maaf, bila kecupku sudah tak lagi dapat kau hisap seperti dulu. Mari pangeran, biar senja kita terjaga tanpa luka berdarah yang lebih parah.
sebuah nama memikat....
sebuah nama dengan makna yang ada di dalamnya.
cuma dua. dua rangkai kata yang membentuk insan dicinta.
Kita berjumpa di warung kopi yang buka semalam suntuk. Kita tidak berdua disana. tapi mereka tak peduli kita ada.
kau habiskan teh dalam gelas belingmu, yang kilaunya seperti bola matamu yang bergerak-gerak ragu. Kita membincangkan apa saja yang dapat diutarakan. kau ceritakan kisah namamu. Namamu yang sejak awal kutau, kukagumi. Unik kataku. aku ceritakan tentang hobiku. puisi, dan puisi kataku. Aku suka sajak. Kau bilang ingin dibuatkan sajak. Sajak berlagu merdu. Tak suka yang sendu-sendu, apalagi tentang rindu. karena rindu terasa pilu. Kamu tak mau. Tak mau merinduku. merindu harus berjarak, dan kau tak mau sajak kita berjarak.
Kubuatkan kau sajak, tentang langit yang berwarna pekat. yang kelak kan jadi hayat.
saat langit gelap tersibak, ada cahaya yang memikat. tak ada nadi lagi yang harus jadi korban tersayat.
24 menit berlalu, dengan sajak berlagu merdu, cinta kita tak lagi bersekat. Bola mata saling menatap. tak usahlah lagi kita berucap. yang kau tahu, ku tahu. Hanya ingin selalu didekap.
cuma dua. dua rangkai kata yang membentuk insan dicinta.
Kita berjumpa di warung kopi yang buka semalam suntuk. Kita tidak berdua disana. tapi mereka tak peduli kita ada.
kau habiskan teh dalam gelas belingmu, yang kilaunya seperti bola matamu yang bergerak-gerak ragu. Kita membincangkan apa saja yang dapat diutarakan. kau ceritakan kisah namamu. Namamu yang sejak awal kutau, kukagumi. Unik kataku. aku ceritakan tentang hobiku. puisi, dan puisi kataku. Aku suka sajak. Kau bilang ingin dibuatkan sajak. Sajak berlagu merdu. Tak suka yang sendu-sendu, apalagi tentang rindu. karena rindu terasa pilu. Kamu tak mau. Tak mau merinduku. merindu harus berjarak, dan kau tak mau sajak kita berjarak.
Kubuatkan kau sajak, tentang langit yang berwarna pekat. yang kelak kan jadi hayat.
saat langit gelap tersibak, ada cahaya yang memikat. tak ada nadi lagi yang harus jadi korban tersayat.
24 menit berlalu, dengan sajak berlagu merdu, cinta kita tak lagi bersekat. Bola mata saling menatap. tak usahlah lagi kita berucap. yang kau tahu, ku tahu. Hanya ingin selalu didekap.
Subscribe to:
Posts (Atom)
my fave quotes ^^
I'm not standing beside you now, not holding you in person. But I am with you. My arms embrace you. My prayers are sent to give you strength so you will know that you are loved and yes, admired too, for all you did and do. And it's my deep hope that what I send to you will be enough to see you through..
"deep inside me, i know i can be the one"
hidupku adalah hari ini. maka aku akan menikmati yang tersaji di hari ini. tak usah pusing memikirkan esok yang tak pasti datang atau masa lalu yang tak lagi teraih kembali.. :)
"deep inside me, i know i can be the one"
hidupku adalah hari ini. maka aku akan menikmati yang tersaji di hari ini. tak usah pusing memikirkan esok yang tak pasti datang atau masa lalu yang tak lagi teraih kembali.. :)






