Pages

July 19, 2010

Tuesdays with Morrie: Pelajaran tentang Makna Hidup by Mitch Albom

Morrie said to Mitch : "u have to learn to let ur feelings die, that makes u understand it as a whole.."
kira2 begitu deh kLo dibahasa inggris-in..

Morrie said to Mitch : apabila kita menahan emosi2 itu-apabila kita tidak membiarkan diri mengalaminya-kita tdk pernah dapat mematikan rasa, kita teralu sibuk menghadapi rasa takut. Kita takut mengalami rasa nyeri, kita takut mengalami rasa sedih. Kita takut mengalami penderitaan akibat cinta.
Tapi dengan membiarkan diri mengalami emosi2 ini, dgn membiarkan diri terjun ke dalamnya, sampai sjauh2nya, kita akan mengalaminya scara penuh & utuh dan kita akan mengerti artinya.
Lalu, kita akan berkata 'baik. aku telah mengalaminya. aku kenal baik dgnnya. skarang aku perlu mematikan perasaan dari emosi ini untuk sementara'.

kalimat ini.. yang membuat saya berfikir tentang hubungan saya dan dia, yg smakin memburuk.
"betapa dahsyat cinta yg kita rasakan kepada org tersebut, ttpi kita tidak mengatakan apapun karena terbelenggu oleh rasa takut bahwa pengungkapan dgn kata2 akan berpengaruh buruk thd hubungan kita"

Ya, betapa saya setuju dengan hal itu.. saya melakukan self-talk dengan diri saya, memikirkan alasan ini dan itu sebagai denial. knapa saya tidak mengatakan bahwa saya MASIH memikirkannya, saya MASIH menyayanginya *walau untuk yg 1 ini, i dont fool myself*? karena saya takut.. saya takut perasaan tersebut menguat *dan pada akhirnya melanggar janji*, saya takut harga diri saya jatuh,saya ga membiarkan diri saya dibasuh dengan emosi tersebut.. saya menahan diri saya untuk memahaminya secara utuh.. tapi, mungkin hanya sampai hari ini, karena bacaan ini bener2 membuat saya berfikir 'dapatkah saya benar2 melepaskannya setelah saya melakukannya?'


*reference : mitch albom - Tuesdays with Morrie*

Akhir-akhir ini saya lagi hobi baca novel-novelnya Mitch Albom nih. Novelnya yang pertama saya baca itu adalah The Five People You Meet in Heaven. Lalu yang kedua adalah For One More Day. Dua buku itu lumayan saya suka dan keduanya sama-sama memiliki tema yang cukup ‘dalem’, yaitu menceritakan tentang makna hidup, kematian, dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Namun, sedalem-dalemnya dua buku itu, menurut saya lebih ‘dalem’ lagi Tuesdays with Morrie, buku Mitch Albom yang ketiga yang saya baca. Saya sukaaaaa sekali buku ini. Ceritanya deeeeep banget *baca: dalem :p*. Gak heran kalo di sampul depan novel-novel Mitch Albom lainnya selalu tercantum kalimat “dari pengarang Tuesdays with Morrie”. Tampaknya novel ini adalah masterpiece dari pengarang satu itu.

Tuesdays with Morrie bercerita tentang kisah nyata yang dialami oleh sang pengarang sendiri, Mitch Albom dengan mantan dosennyanya di universitas, Morrie Schwartz. Sejak Mitch lulus, guru dan murid ini sudah tidak pernah berhubungan lagi, padahal Mitch sudah berjanji akan tetap menghubungi Morrie meskipun ia sudah lulus. Dan, setelah tanpa sengaja melihat sebuah acara televisi di mana Morrie tampil menjadi bintang tamu, Mitch kembali menghubungi mahagurunya tersebut. Ia akhirnya mengetahui bahwa saat ini Morrie menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS), sebuah penyakit ganas dan tak kenal ampun yang menyerang sistem saraf. Penyakit tersebut terus menggerogotinya, dan Morrie sendiri tahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Namun, hal tersebut sama sekali tidak menurunkan semangat Morrie. Ia sama sekali tidak menyerah. “Sebaliknya, ia bermaksud menjadikan kematian sebagai proyeknya yang penghabisan, pusat perhatiannya selama hari-hari yang masih tersisa. Karena siapa pun kelak akan mati, upayanya pasti akan berguna, betul kan? Ia dapat menjadi obyek penelitian itu sendiri. Ia akan menjadi buku bernama manusia. Belajarlah dari lambat dan perlahannya proses kematianku. Perhatikan apa pun yang terjadi padaku. Belajarlah bersamaku.” (dikutip dari halaman 11)

Akhirnya, tiap minggu-nya, tepatnya setiap hari Selasa, Mitch menemui Morrie, dan kembali melakukan ‘kuliah’ bersamanya, yaitu kuliah tentang makna hidup, seperti tentang dunia, kematian, penyesalan, keluarga, emosi, pernikahan, uang, budaya, dan hal-hal lainnya. Banyak hal yang didapat Mitch melalui kuliah-kuliahnya tersebut, dan melalui pengalaman-pengalaman yang diceritakan oleh Morrie, Mitch mulai bisa memaknai hidupnya yang awalnya berjalan dengan datar.

Saya suka buku ini. Seperti yang saya bilang di atas, buku ini bener-bener ‘dalem’. Bukan hanya Mitch saja yang bisa belajar dari sosok bijaksana seorang Morrie, tapi juga para pembaca novel ini. Pesan-pesan yang disampaikan Morrie melalui buku ini bener-bener ‘kena’ banget, dalem, dan gak berkesan menggurui. Salah satu kutipan favorit saya dari buku ini yang diucapkan oleh Morrie, “begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, itu sama dengan belajar tentang bagaimana kita harus hidup.”

Buku ini mengajarkan pada kita, bahwa setiap manusia pasti akan mati. Karena itulah, kita harus menjalani hidup kita dengan sebaik-baiknya. Morrie sendiri sama sekali bukan karakter yang betul-betul sempurna. Walaupun ia terlihat tenang dan bijaksana dalam menghadapi penyakit yang menggerogotinya, bukan berarti ia tidak merasa takut sama sekali. Saya suka sekali dengan konsep Morrie tentang ‘mematikan perasaan’. Morrie mengajarkan pada kita untuk tidak selalu menahan emosi, karena apabila emosi-emosi tersebut ditahan, kita tidak akan pernah dapat mematikan rasa dan akan selalu sibuk menghadapi rasa takut.

Selain itu saya juga suka dengan bab yang membahas tentang maaf. Di sini Morrie mengajarkan agar kita memaafkan diri sendiri sebelum memaafkan orang lain. Kita pasti pernah merasakan berbagai macam penyesalan dalam hidup ini, dan hal itu sering membuat kita menghukum diri sendiri. Karena itu, maafkanlah dirimu sendiri, berdamailah dengan dirimu sendiri dan orang lain. Bisa dibilang bab yang ini adalah bab yang paling saya suka dari buku ini..

my fave quotes ^^

I'm not standing beside you now, not holding you in person. But I am with you. My arms embrace you. My prayers are sent to give you strength so you will know that you are loved and yes, admired too, for all you did and do. And it's my deep hope that what I send to you will be enough to see you through..

"deep inside me, i know i can be the one"

hidupku adalah hari ini. maka aku akan menikmati yang tersaji di hari ini. tak usah pusing memikirkan esok yang tak pasti datang atau masa lalu yang tak lagi teraih kembali.. :)