purnama di pantai paraiMalam ini purnama. Aku sedang di pesisir pantai Parai dengan semilir-semilir angin yang ramah mengajak helai-helai rambutku berdansa seraya menikmati nyanyian dari debur ombak yang mesra menyapa pantai. Batu-batu tinggi berbaris tidak karuan, tak apa. Mereka juga menikmati alunannya melodi ombak tadi. Aku… menikmati sayup-sayup gelombang sonik yang cukup kukenali. Tertawa-tawa, bercanda di beranda sebelah. Renyah. Aku menyukai detakan dan tekanan yang menandakan antusiasmu terhadap mimpi-mimpimu yang kau dongengkan. Kamu dan sepupu kita disitu, yang kuajak lepas penat sementara di kampung kelahiran bapaknya, bapakku, dan bapakmu.
Seru. Akhirnya aku terbawa untuk nimbrung juga.
Lalu, larutlah kita bertiga. Masih di malam purnama, dipesisir pantai Parai dengan semilir-semilir angin yang mengajak rambutku, rambutmu berdansa menikmati irama-irama sang ombak yang kini mulai genit, mencolek-colek bebatuan yang sedari tadi hanya menonton saja.
Sunyi sebentar. Kita bertiga tidak berkata-kata.
Sampai kudongakkan kepalaku menatap hitamnya langit, yang malam ini ditemani purnama.
“kenapa tidak ada bintang malam ini?” kubilang begitu
“mendung” jawabmu
Aku nyengir jail, “bukan itu, karena bintangnya ada dihatimu”
Lalu sunyi berubah jadi bahak.
[seandainya kau mau petikkan beberapa untukku], batinmu
[aku benar-benar ingin petikkan beberapa bintang untuk hatimu], batinku
“kalian gila… asal jangan benar-benar jatuh cinta saja”, dia masih tertawa.
Kita : …. [berharap rasa itu tak benar-benar nyata]
purnama keduaAwalnya, kukira…
Saat kutinggalkan landasan kotamu, dan kupijakkan kakiku diatas tanah Jakarta, aku akan sudah melupakan purnama di Pantai Parai, melupakan melodi-melodi irama hati, meluapakan haru saat aku melambaikan jariku kearahmu sore itu… dengan kata lain… aku akan sudah mampu melupakanmu.
Tapi nyatanya…
Saat purnama sudah muncul lagi… memoriku berlarian menuju saat aku pernah memandang lukisan langit bersamamu.
Kita pernah menatap langit, melihat jiwa wulan yang sedang utuh.
Dimalam berangin itu. kita duduk. Tidak berhadapan, tidak juga berdampingan.
Tidak berdua, dan tidak mesra. kita sama-sama menikmati cantik rupanya.
Kita tidak saling berkata. Tidak bergandengan. hanya saja hati kita melantunkan irama yang sama.
Purnama kedua aku masih tetap cinta kamu, semoga saja itu jua yang kamu rasa.
Kini, kita juga tidak berhadapan, tidak berdampingan, malah jauh pula jarak yang ada. Tapi rasanya, hati kita masih bernyanyi melodi yang sama.
Malam ini iramanya sama-sama sendu
Sama-sama terbesit ragu, bukan pada rasa cinta yang kita punya.
Namun pada realita yang membelenggu,
Yang tidak satu lagu, membuat kita jadi semakin kelabu.
“kita berjalan diatas mimpi, tapi bukankah mimpi seringkali menjadi titik balik harapan yang berubah menjadi kenyataan?”, pendapatmu begitu.
Ya, aku tahu kamu mencoba mencari-cari cara agar ini bukan jadi suatu perkara.
Tapi ini adalah nyata. Mimpi kita, dibunuh oleh realita. Tak ada harapan.
Begitu pesimis aku dibuat oleh fakta yang ada.
Kamu terdiam, mengakuinya.
Aku juga paham benar konflik yang ada disini
Kamu dan aku... mengerti...
Tapi mampukah jiwa kita menerimanya?
sejak malam itu, untukku, purnama takan pernah lg sama. tak akan pernah menjadi sempurna seperti malam disaat melodi kita sedang ceria dipenuhi kasih cinta.
Kini, jiwanya telah hilang sebagian, telah dicuri walau sesungguhnya purnama tidak rela dipaksa memberi cintanya. tapi purnama tak mampu lakukan apa-apa. purnama tak lagi sempurna, stidaknya untukku.
Mungkin ini akhir dari dilema seribu tanyaku, dimana akhirnya sudah terlihat jurang kematian tempatku bunuh diri, bukan lagi hanya bayang atau tatapan ilusi. Ya, bukankah jiwa kita mati bersama disana? Sama2 terjun bebas pada suratan abadi dunia dimana habis daya kala kita coba menyangkalnya, mencoba mengubahnya sampai tersayat dan habislah darah yg mengalir dalam nadi kita. Henti sudah detak jantung di detik berikutnya, di detik yg melantunkan irama tersendu sepanjang masa kita berdua.
Melodi kenyataan. Melodi fakta dan realita yg tak lagi merdu.
Aku hanya tinggal menunggu waktu itu, yg pasti tiba. menunggu melodi itu kematian jiwa dan rasa yg meninggalkan asa.
Dilema bukan lagi suatu permainan yg menyenangkan, bukan lg tekateki yg harap temukan jawabnya. sudah jelas kini. Kelak kau tinggal datang bawa satu tangkai kembang mawar bagi persemayaman abadiku, dimana selaput hitam atas nama kekecewaan yg menjadi kain kafanku. Itu saja. sama seperti yg slalu aku minta saat jantungku masih berdenyut bersamamu. Saat dimana jiwamu menghangatkan bekunya hatiku, saat raga tak berjumpa tapi melodi kita selalu sama.
senyumku berarti pasrah.
menatap purnama yg tak lg istimewa, karena separuh jiwanya telah diambil paksa.
Dan purnama tak pernah lagi sempurna, sejak rasa menyanding hampa.
semoga saja, pelaminan kita sudah siap di surga.
February 03, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
my fave quotes ^^
I'm not standing beside you now, not holding you in person. But I am with you. My arms embrace you. My prayers are sent to give you strength so you will know that you are loved and yes, admired too, for all you did and do. And it's my deep hope that what I send to you will be enough to see you through..
"deep inside me, i know i can be the one"
hidupku adalah hari ini. maka aku akan menikmati yang tersaji di hari ini. tak usah pusing memikirkan esok yang tak pasti datang atau masa lalu yang tak lagi teraih kembali.. :)
"deep inside me, i know i can be the one"
hidupku adalah hari ini. maka aku akan menikmati yang tersaji di hari ini. tak usah pusing memikirkan esok yang tak pasti datang atau masa lalu yang tak lagi teraih kembali.. :)







0 comments:
Post a Comment